Standar Ganda di Balik Cermin: Dari Sejarah Operasi Plastik Sampai Bias Masyarakat Modern


Operasi Plastik Itu Bukan Tren Baru, Ini Udah Ribuan Tahun
Buat banyak orang, operasi plastik mungkin identik dengan Seoul, influencer, dan dunia hiburan. Tapi faktanya, jejaknya udah ada jauh sebelum K-pop, bahkan sebelum kamera diciptakan. Sejarah mencatat, sekitar 600 SM, seorang tabib asal India bernama Sushruta udah nulis teknik forehead flap rhinoplasty dalam bukunya Sushruta Samhita. Ia ngebentuk hidung baru pakai kulit dari dahi metode yang jadi dasar bedah plastik modern sekarang.
Di masa itu, operasi plastik bukan soal kecantikan, tapi soal pemulihan martabat. Banyak orang kehilangan hidungnya sebagai hukuman sosial, dan Sushruta bantu mereka “kembali jadi manusia” di mata masyarakat. Ratusan tahun kemudian, Gaspare Tagliacozzi, dokter asal Italia, jadi pionir Eropa dalam bidang ini. Ia menulis buku tebal tentang rekonstruksi wajah untuk korban luka perang dan kecelakaan. Buatnya, operasi plastik bukan cuma seni medis, tapi bentuk empati — upaya memulihkan identitas seseorang.
Dari Medan Perang ke Klinik Estetika
Lompat ke abad ke-20, dua Perang Dunia mengubah banyak hal termasuk wajah dunia kedokteran. Ribuan tentara pulang dengan luka bakar dan wajah yang rusak. Dari situ, dokter seperti Harold Gillies dan Archibald McIndoe mengembangkan metode baru buat rekonstruksi wajah. Bayangin, waktu itu nggak ada teknologi laser atau anestesi modern. Tapi mereka berhasil “membentuk ulang” wajah manusia demi mengembalikan rasa percaya diri History of Plastic Surgery
Dari situ lahir istilah plastic surgery — bukan dari “plastik” bahan sintetis, tapi dari bahasa Yunani plastikos, yang artinya membentuk. Seiring waktu, fungsi bedah plastik mulai geser. Dari sekadar rekonstruktif (buat memperbaiki yang rusak), jadi estetika — buat memperindah yang sudah ada.
Era Modern: Oplas Jadi Bentuk Self-Love
Fast forward ke abad ke-21 — operasi plastik udah jadi hal yang lumrah.
Nggak lagi cuma dilakukan oleh selebritas, tapi juga oleh orang-orang biasa yang pengin tampil lebih percaya diri. Bukan cuma buat “ngikutin standar”, tapi juga buat reclaim power atas tubuh sendiri.
Menurut data dari International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) tahun 2020, tercatat lebih dari 10 juta prosedur operasi estetika dilakukan di seluruh dunia. Amerika Serikat jadi juaranya dengan 4,3 juta prosedur, disusul Brasil (2,3 juta), Meksiko, Korea Selatan, dan Italia.
Jenis operasi yang paling populer?
- Breast Augmentation – 1,6 juta
- Liposuction – 1,5 juta
- Eyelid Surgery (Blepharoplasty) – 1,2 juta
- Tummy Tuck – 760 ribu
- Rhinoplasty – 720 ribu
Di Asia, Korea Selatan jadi sorotan. Negeri Ginseng ini dikenal sebagai “ibukota oplas dunia”. Tiap tahun, hampir 1 dari 3 perempuan muda di Seoul melakukan prosedur estetika — mulai dari operasi kelopak mata, hidung, sampai kontur wajah. Tapi yang menarik, di Korea, oplas dianggap bagian dari self-improvement, bukan aib.
Sumber: BBC – South Korea and the culture of cosmetic surgery
Menurut data International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS), pada tahun 2020 tercatat sekitar 10.129.528 prosedur operasi plastik estetika di seluruh dunia. Databoks+1
Dari data tahun 2019, prosedur pembesaran payudara (breast augmentation) menjadi yang paling banyak dilakukan secara global: sekitar 1.624.281 prosedur atau ≈16 % dari total. Databoks+1
Beberapa negara dengan jumlah prosedur terbanyak:
Amerika Serikat: lebih dari 4,3 juta prosedur (data 2018) – menempati urutan pertama.
Brasil: sekitar 2,3 juta prosedur (data 2018).
Menurut data tambahan: di tahun 2020, Amerika Serikat mencatat sekitar 1.485.116 prosedur, yaitu ≈14,7 % dari total global. Databoks
Ketika “Upgrade Diri” Jadi Hal yang Diperdebatkan
Sayangnya, di Indonesia, respons masyarakat terhadap hal ini masih penuh bias. Cowok yang rutin gym, skincare-an, atau bahkan tanam rambut dianggap glow up dan “merawat diri”. Tapi begitu perempuan melakukan hal yang sama — apalagi lewat operasi — langsung dicap “palsu”, “tidak bersyukur”, bahkan “murahan”.
Komentar komentar pedas netizen kalo liat ‘Perempuan’ ngelakuin oplas
Meanwhile, komentar komentar pujian bagi ‘Laki laki’ pas ngelakuin hal yang sama
Ironisnya, banyak dari komentar itu datang dari sesama perempuan. Netizen perempuan kadang jadi penjaga gerbang moral: sibuk mengatur versi kecantikan yang “boleh” dan yang “nggak boleh.” Padahal, bukankah esensi kesetaraan itu adalah kebebasan untuk menentukan versi terbaik dari diri sendiri?
Double Standard yang Nggak Pernah Hilang
Kita hidup di dunia yang bilang “perempuan bebas jadi apa aja”, tapi masih ngatur cara perempuan berpakaian, bersikap, sampai bentuk wajah. Bebas, tapi bersyarat. Sementara laki-laki dapat “golden ticket” untuk bereksperimen dengan penampilan tanpa dihakimi. Padahal, kalau kita bicara kesetaraan gender, artinya bukan siapa yang lebih, tapi siapa yang punya kesempatan yang sama.
Kenapa Kita Sering Ikut Nyerang?
Pertanyaan ini penting: kenapa sesama perempuan malah saling nge-judge? Jawabannya rumit — tapi banyak berakar dari sistem sosial yang udah terbentuk sejak lama. Sejak kecil, perempuan sering diajarkan untuk “jadi cantik tapi jangan berlebihan”, “rawat diri tapi jangan kelihatan haus perhatian”. Akhirnya, banyak yang tumbuh dengan mindset bahwa kecantikan adalah kompetisi, bukan ekspresi diri.
Jadi, saat ada perempuan yang tampil beda atau percaya diri dengan perubahan fisiknya, alih-alih menginspirasi, itu malah dianggap ancaman. Sebuah paradoks sosial yang bikin perempuan terus diadu diam-diam.
Berhak Nyaman, Tapi Juga Berhak Berubah
Perempuan punya hak buat merasa cukup dengan dirinya sendiri, tapi juga berhak buat berubah tanpa harus menjelaskan alasannya ke siapa pun. Operasi plastik, skincare rutin, atau gaya hidup sehat — semuanya bisa jadi bentuk cinta diri. Self-love itu nggak harus berarti “menerima apa adanya tanpa berubah”, tapi juga bisa berarti “berani mengambil langkah buat jadi versi yang lebih baik”.
Karena yang penting bukan apa yang diubah, tapi siapa yang memutuskan. Kalau perubahan itu datang dari keinginan diri sendiri, bukan tekanan sosial, maka itu bentuk kebebasan — bukan ketidaksyukuran.
8. Yang Perlu Diubah: Cara Kita Melihat
Masalahnya bukan di siapa yang operasi atau nggak. Masalahnya ada di cara kita menilai. Kalau seseorang mau mengubah dirinya karena merasa itu bikin dia lebih nyaman, seharusnya kita nggak punya hak buat men-judge. Tapi kalau dia berubah karena takut nggak diterima, berarti yang perlu dibenerin bukan orangnya — tapi sistem sosialnya.
Kita bisa mulai dari hal kecil: berhenti kasih komentar body shaming, berhenti nge-compare wajah “dulu vs sekarang”, dan mulai belajar menghargai pilihan orang lain. Itu langkah sederhana menuju masyarakat yang beneran setara — bukan cuma di caption Instagram.
Refleksi di Balik Cermin
Sebelum kita ngetik komentar sarkas di kolom orang lain, coba tanya dulu:
“Apakah aku benar-benar peduli, atau cuma lagi memproyeksikan biasku sendiri?”
Karena pada akhirnya, operasi plastik hanyalah alat. Yang menentukan maknanya adalah cara kita menatapnya. Cermin bisa menunjukkan perubahan wajah, tapi nggak bisa menunjukkan kedewasaan cara pandang. Dan mungkin, di balik semua ini, yang sebenarnya butuh “operasi” bukan wajah perempuan tapi perspektif masyarakatnya.
Sumber Referensi:
Columbia Surgery
Britannica – Plastic Surgery
Res Medica Journal – History of Plastic Surgery
ISAPS Global Survey 2020
Katadata – Statistik Oplas Dunia 2020
Okezone – Negara dengan Oplas Terbanyak
BBC – South Korea Cosmetic Culture




Leave a Reply