Kulit Putih, Tubuh Langsing, Rambut Lurus: Mitos Cantik yang Perlu Dipatahkan

Buat banyak perempuan muda di kota besar Indonesia, standar cantik sering kerasa kayak aturan gak tertulis: kulit harus cerah, badan harus langsing, rambut bagusnya lurus. Dan tanpa sadar, standar ini hadir di mana-mana, mulai dari iklan skincare, feed Instagram, sampe komentar santai dari orang sekitar.

Sebagai generasi yang tumbuh bareng media sosial, Gen Z hidup di era yang katanya paling “bebas”. Tapi di saat yang sama, tekanan untuk tampil “cantik” justru kerasa makin intens. Pertanyaannya: cantik menurut siapa, dan siapa yang paling diuntungkan dari standar ini?

Standar Cantik Bukan Sesuatu yang Alami

Banyak orang ngira standar kecantikan itu hal yang wajar, bahkan alami. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Standar cantik selalu berubah, tergantung konteks sosial, ekonomi, dan budaya.

Di Indonesia, preferensi terhadap kulit putih gak bisa dilepasin dari sejarah kolonial dan warisan kelas sosial, di mana kulit cerah diasosiasiin sama status lebih tinggi. Sementara tubuh langsing dan rambut lurus semakin dipopulerkan lewat globalisasi media, industri fashion, dan budaya pop Barat serta Korea.

Artinya, standar cantik bukan fakta biologis melainkan konstruksi sosial yang terus direproduksi.

Media dan Industri yang Menguatkan Mitos Cantik

Media punya peran besar dalam ngebentuk persepsi kecantikan. Iklan, film, influencer, hingga algoritma media sosial cenderung nampilin tipe tubuh sama wajah yang seragam.

Buat Gen Z yang hampir tiap hari scrolling sosmed, paparan visual ini tuh berdampak nyata. Penelitian nunjukin kalo semakin sering seseorang terpapar standar tubuh ideal di media, semakin tinggi risiko ketidakpuasan sama tubuhnya sendiri.

Industri kecantikan juga ikut memperkuat narasi ini sering kali dengan menjual “solusi” atas “masalah” yang sebenarnya diciptain oleh standar itu sendiri.

Dampak Nyata pada Mental Perempuan Muda

Standar cantik yang sempit bukan cuma soal estetika. Dampaknya langsung kerasa sama kesehatan mental.

Banyak perempuan muda ngerasa:

  • Gak cukup cantik
  • Harus terus “memperbaiki diri”
  • Ngerasa bersalah pas gak sesuai standar
  • Ngebandingin diri secara obsesif sama orang lain

Penelitian psikologi nunjukin kalo tekanan terhadap penampilan berkaitan sama meningkatnya kecemasan, rendahnya self-esteem, sampe gangguan makan terutama pada remaja dan dewasa muda.

Di kota besar, tekanan ini sering diperparah oleh budaya produktif dan kompetitif: bukan cuma harus pintar dan sukses, tapi juga harus kelihatan menarik.

Kenapa Mitos Ini Sulit Dipatahkan?

Karena standar cantik tidak berdiri sendiri. Ia hidup dalam sistem:

  • Algoritma yang mempromosikan wajah dan tubuh tertentu
  • Komentar sosial yang sering dianggap “bercanda”
  • Budaya kerja dan dating yang masih bias penampilan
  • Internalisasi sejak kecil, bahkan dari keluarga

Banyak perempuan Gen Z sadar bahwa standar ini bermasalah tapi tetap merasa terjebak di dalamnya. Ini bukan kemunafikan, tapi bukti betapa kuatnya pengaruh sistem sosial terhadap identitas diri.

Menuju Definisi Cantik yang Lebih Manusiawi

Mematahkan mitos cantik bukan berarti anti-merawat diri atau anti-estetika. Yang perlu dikritisi adalah gagasan bahwa hanya ada satu versi cantik yang layak diterima.

Bagi banyak Gen Z urban hari ini, redefinisi cantik mulai bergeser:

  • Cantik sebagai ekspresi diri, bukan kewajiban
  • Cantik yang inklusif, bukan eksklusif
  • Cantik yang tidak menyakiti diri sendiri

Gerakan body positivity dan body neutrality mungkin belum sempurna, tapi setidaknya membuka ruang dialog: bahwa nilai perempuan tidak ditentukan oleh warna kulit, angka timbangan, atau tekstur rambut.

Penutup: Cantik Tidak Seharusnya Melelahkan

Jika merasa lelah mengejar standar cantik, mungkin masalahnya bukan di diri kita tapi pada standar itu sendiri.

Sebagai generasi yang paling vokal soal kesehatan mental dan keadilan sosial, Gen Z punya peluang untuk mematahkan mitos lama ini. Bukan dengan menciptakan standar baru yang sama sempitnya, tapi dengan memberi ruang bagi keberagaman tubuh dan identitas.

Cantik seharusnya membebaskan, bukan membebani.

Catatan Riset & Referensi

  1. American Psychological Association (APA)Body Image and Mental Health: Paparan standar kecantikan media berkaitan dengan kecemasan dan rendahnya self-esteem.
  2. World Health Organization (WHO)Mental Health of Adolescents: Tekanan sosial terhadap tubuh berkontribusi pada masalah kesehatan mental remaja dan dewasa muda.
  3. Dove Global Beauty and Confidence Report – Menunjukkan mayoritas perempuan muda merasa tidak terwakili oleh standar kecantikan di media.
  4. Fredrickson & Roberts (1997)Objectification Theory: Objektifikasi tubuh berdampak pada kesehatan mental perempuan.
  5. Perloff (2014) – Studi tentang media sosial dan body dissatisfaction pada perempuan muda.
  6. UN Women – Analisis tentang representasi perempuan dan standar kecantikan global.

So, jadi Perempuan di Era Modern: Lebih Bebas atau Lebih Tertekan?

 

What's your reaction?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *