Menjadi Perempuan di Era Modern: Lebih Bebas atau Lebih Tertekan?

Di atas kertas, perempuan hari ini punya lebih banyak pilihan dibanding generasi sebelumnya. Bisa sekolah setinggi mungkin, punya karier, menunda menikah, memilih tidak punya anak, atau justru fokus ke keluarga. Semua terdengar seperti kebebasan.

Tapi buat banyak perempuan Gen Z yang hidup di kota besar, pertanyaannya sering terasa lebih rumit: kenapa di tengah semua “pilihan” ini, rasa lelah dan tekanan justru semakin besar?

Lebih Banyak Kesempatan, Lebih Banyak Tuntutan

Tidak bisa dimungkiri, perempuan modern menikmati akses yang lebih luas terhadap pendidikan dan dunia kerja. Data global menunjukkan partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi dan angkatan kerja meningkat signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, riset juga menunjukkan bahwa peningkatan akses ini tidak otomatis menghapus ekspektasi lama. Perempuan kini sering dihadapkan pada tuntutan ganda: sukses secara profesional, tetap memenuhi peran domestik, menjaga penampilan, dan stabil secara emosional.

Alih-alih menggantikan standar lama, era modern justru menumpuk standar baru di atasnya.

Ilusi Pilihan dalam Kehidupan Sehari-hari

Secara teori, perempuan bebas memilih. Tapi dalam praktiknya, banyak pilihan datang bersama penilaian sosial.

  • Bekerja? Ditanya kapan menikah.
  • Menikah muda? Dibilang kurang ambisi.
  • Fokus karier? Dianggap egois.
  • Ingin hidup pelan? Dibilang tidak produktif.

Penelitian sosiologi menunjukkan bahwa kebebasan perempuan sering kali bersifat “bersyarat”: diterima selama tetap sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Inilah yang membuat banyak perempuan merasa seolah salah, apa pun pilihan yang diambil.

Tekanan Mental di Balik Label “Perempuan Kuat”

Narasi perempuan modern sering dibungkus dengan kata “kuat”, “mandiri”, dan “tangguh”. Sekilas terdengar positif. Tapi tanpa disadari, label ini juga bisa menjadi beban.

Studi psikologi menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi, terutama di usia produktif. Salah satu faktornya adalah emotional labor tuntutan untuk selalu sabar, mengerti, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain.

Di kalangan Gen Z urban, tekanan ini sering muncul dalam bentuk burnout, overthinking, dan rasa bersalah saat merasa “tidak cukup”.

Media Sosial: Ruang Ekspresi atau Sumber Tekanan Baru?

xr:d:DAFLI6T9Sxs:132,j:35161135705,t:22091222

Media sosial sering disebut sebagai alat pembebasan: tempat perempuan bisa bersuara, membangun personal brand, dan mengekspresikan diri. Itu benar. Tapi riset menunjukkan sisi lain yang tidak kalah nyata.

Paparan terus-menerus terhadap pencapaian, tubuh ideal, dan gaya hidup “sempurna” meningkatkan kecenderungan membandingkan diri. Algoritma cenderung mengangkat konten yang sesuai standar tertentu, membuat kebebasan berekspresi terasa tidak sepenuhnya netral.

Bagi perempuan muda, media sosial bisa menjadi ruang validasi sekaligus sumber tekanan psikologis.

Antara Kemajuan dan Patriarki yang Beradaptasi

Banyak yang mengira patriarki sudah “berkurang” di era modern. Faktanya, sistem ini tidak selalu hilang melainkan beradaptasi.

Diskriminasi kini lebih halus:

  • Perempuan boleh bekerja, tapi tetap diharapkan mengurus rumah
  • Perempuan boleh ambisius, asal tidak “terlalu”
  • Perempuan boleh vokal, asal tetap sopan

Riset gender menunjukkan bahwa bentuk-bentuk patriarki modern sering sulit dikenali karena dibungkus bahasa pilihan, empowerment, dan normalisasi budaya.

Jadi, Lebih Bebas atau Lebih Tertekan?

Jawabannya tidak hitam-putih.

Perempuan di era modern memang lebih bebas secara struktural, tapi juga menghadapi tekanan yang lebih kompleks. Kebebasan tanpa dukungan sistem kebijakan ramah gender, pembagian peran yang adil, dan ruang aman secara sosial sering berubah menjadi beban personal.

Bagi Gen Z, kesadaran akan isu ini mulai tumbuh. Diskusi soal mental health, batasan pribadi, dan redefinisi sukses menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap tekanan yang diwariskan.

Penutup: Bebas Seharusnya Tidak Membuat Lelah

Menjadi perempuan di era modern seharusnya berarti punya ruang untuk memilih tanpa rasa bersalah. Bebas untuk berubah pikiran. Bebas untuk gagal. Bebas untuk hidup dengan ritme sendiri.

Jika hari ini terasa melelahkan, itu bukan tanda kita kurang kuat melainkan sinyal bahwa sistem di sekitar kita masih perlu dibenahi.

Dan mungkin, langkah pertama menuju kebebasan yang lebih nyata adalah berhenti menuntut diri sendiri untuk selalu sanggup menanggung semuanya sendirian.

Catatan Riset & Referensi

  1. World Economic ForumGlobal Gender Gap Report: Menunjukkan peningkatan partisipasi perempuan di pendidikan dan kerja, namun kesenjangan struktural masih ada.
  2. World Health Organization (WHO) – Data kesehatan mental menunjukkan perempuan muda lebih rentan terhadap kecemasan dan depresi.
  3. American Psychological Association (APA) – Studi tentang emotional labor dan tekanan peran ganda pada perempuan.
  4. Hochschild & Machung (1989)The Second Shift: Perempuan bekerja tetap memikul beban domestik lebih besar.
  5. Perloff (2014) – Penelitian tentang media sosial dan dampaknya pada self-esteem perempuan muda.
  6. UN Women – Analisis tentang patriarki modern dan ketimpangan gender di ruang publik dan privat.

Kenapa Perempuan Masih Dibayar Lebih Rendah? Fakta Gender Pay Gap

What's your reaction?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *